ppc management, online marketing, search marketing, seo, website development - www.dotmedias.com
Showing posts with label Jumong : Prince of the Legend. Show all posts
Showing posts with label Jumong : Prince of the Legend. Show all posts

Sunday, March 21, 2010

Sinopsis Jumong episode 5

Jumong : Prince of the Legend episode 5

Tayang: Jumat, 19 Maret 2010 pukul 17:00 WIB di Indosiar



Apa yang terjadi. Bukankah kalian bilang dia sudah mati? ujar Wan Hoo.





Young Po: Aku melihatnya jatuh di lumpur hisap. Tidak mungkin dia bisa keluar dari sana hidup-hidup. Ibu, jangan khawatir. Lain kali kami tidak akan gagal...

Wan Hoo: Jangan hanya bicara! Lakukan sesuatu! Jika kau ingin membunuhnya, bunuh dengan tanganmu sendiri! Apa kau tidak tahu kenapa aku merasa seperti ini? Dae So, walaupun semua orang bilang kau akan menjadi Putra Mahkota, tapi itu hanya karena kau putra sulung. Kau belum menjadi Putra Mahkota yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu siapa yang akan dipilih oleh Yang Mulia. Mungkin saja ia menginginkan Jumong yang menjadi penerusnya. Kau mengerti?

Dae So: Ya.

Dae So kemudian memerintahkan Young Po untuk memata-matai Jumong.



Yoo Hwa: Aku tidak pernah mengajarimu bela diri, aku juga tidak pernah mengajarimu politik. Apa kau tahu kenapa?

Jumong: Aku mengerti, ibu. Sejak kecil, aku tahu ibu merasa tersiksa dengan kecemburuan Permaisuri. Aku juga sering menjadi bulan-bulanan kedua kakakku. Mulanya aku berpikir bahwa itu adalah takdir kita. Jadi aku sengaja bersikap penakut. Aku sengaja bersikap seperti orang dungu agar semua orang menganggap aku bodoh dan tidak memperhatikan aku. Aku hidup tanpa memiliki ambisi, dan aku akan terus hidup seperti itu.

Yoo Hwa: Kita tidak akan hidup seperti itu lagi. Aku akan menjadikanmu Putra Mahkota dan menjadi penerus tahta.

Jumong terkejut. "Ibu.. Apa itu mungkin?"

Yoo Hwa berkata tenang, "Alasan Dae So menjadi putra mahkota hanya karena ia adalah putra sulung. Kau harus menjadi raja dan menyelesaikan tugas besar. Inilah alasan aku menyembunyikan perasaanku dan hidup tenang dibawah tekanan.

Jumong: Apa tugas besar itu, ibu?

Yoo Hwa: Kau akan tahu jika waktunya sudah tepat. Permaisuri dan Dae So berusaha membunuhmu, jadi kau harus bisa melindungi diri.



Jumong, Yoo Hwa dan Mu Duk (pelayan Yoo Hwa) pergi keluar istana diam-diam. Mereka bertemu dengan seorang pria gemuk berjenggot yang bernama Mu Song. Mu Duk berkata bahwa Mu Song adalah kakaknya. Mu Song dipanggil untuk melatih Jumong bela diri. Ia adalah kepala penjara BuYeo dan suka minum-minum. Mu Duk tidak memberi tahu identitas asli Jumong, namun memberi tahu bahwa Jumong adalah putra seorang bangsawan. Jumong juga tidak memberi tahu nama aslinya."Namaku Chu Mo." kata Jumong berbohong. Pelajaran pertama, Mu Song menyuruh Jumong berlari ke puncak gunung di seberang dan kembali lagi agar tangan Jumong menjadi lebih kuat.



Jumong ragu apakah Mu Song bisa benar-benar mengajarinya bela diri. Mu Song hanya tidur-tiduran dan minum-minum ketika bersama Jumong. Mu Song sadar hal itu. Ia lalu menambal kayu yang sudah patah agar jika dipukul, kayu tersebut bisa langsung patah.

Satu bulan sudah berlalu dan Jumong hanya disuruh mondar-mandir ke puncak gunung seberang. Habis sudah kesabaran Jumong.

Jumong: Bangun! Bangun kataku! Selama satu bulan aku hanya lari ke puncak gunung itu! Kapan kau akan mengajari aku bela diri? Apa kau punya kemampuan bela diri Aku tidak mempercayaimu lagi!

Mu Song: Kau bertanya apa aku punya kemampuan bela diri? ikut aku!



Mu Song mengajak Jumong ke penjara rahasia di tengah hutan. Mu Song mengatakan itu penjara rahasia dan tidak ada yang tahu tentang keberadaan penjara itu, bahkan Yang Mulia. Penjara rahasia itu tidak lain adalah sebuah gua di tengah hutan.

Mu Song mulai memperagakan ilmu bela dirinya yang konyol. Jumong meremehkan. Tiba-tiba Mu Song memukul sebuah kayu dan kayu itu langsung patah. Jumong terkejut dan berlatih memukul-mukul kayu. Ia berlatih sendiri, Mu Song tidur. Bisa dibilang, Jumong berlatih bela diri dengan otodidak karena Mu Song sama sekali tidak pernah mengajarinya.



Para pejabat diberi kabar bahwa para pandai besi telah menemukan senjata baru. Geum Wa dan pejabat lain langsung datang ke bengkel pandai besi. Ketua bengkel itu adalah seorang pria cukup tua bernama Mo Pal Mo.

Mo Pal Mo: Ini adalah pedang terbaik yang berhasil kami buat, Yang Mulia.

Geum Wa melihat pedang itu dengan seksama. Ia memerintahkan Perdana Menteri untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menguji kekuatan pedang itu.



Di lain sisi, rombongan pedagang Gyeh Ru tiba di BuYeo. So Seo No dan rombongan pulang dengan selamat. Yeon Ta Bal menyambut mereka. "Bagaimana perjalanan kalian?" tanyanya.

Ayah Oo Tae, Gye Pil: Nona sangat keras kepala! Dia nyaris membuat kami semua terbunuh!

Oo Tae: Kami membawa garam dan sutera dari Okjo dan menjualnya di Heng In. Nona sangat cerdik sehingga kita bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat.

Yeon Ta Bal: Bagus sekali.

So Seo No tersenyum puas.



Gye Pil menceritakan perjalanannya pada Yeon Ta Bal dengan sangat antusias. "Letak Okjo dan Heng In sangat jauh. Biasanya kita menempuhnya selama 15 hari, tapi Nona membuatnya menjadi 10 hari! Kami diserang oleh bandit, tapi Nona sama sekali tidak takut! Aku tidak akan pernah lagi pergi berdagang dengan Nona!"

Yeon Ta Bal langsung memandangnya. "Oh, So Seo No akan menjadi penerusku sebagai kepala klan ini. Jika kau tidak berdagang, kami tidak punya ruang untukmu."

Gye Pil bingung, terkejut dan panik sekaligus. "Waduh, bagaimana ini?"



Yeon Ta Bal melakukan pendekatan pada Ye Mi Eul agar ia bisa melakukan transaksi dengan Raja Geum Wa. "Jalan tercepat untuk bertemu dengan Raja Geum Wa adalah melewati Yeo Mi Eul."

Yeon Ta Bal mendatangi Yeo Mi Eul setelah Ye Mi Eul selesai bersemedi di air terjun.

Ye Mi Eul: Apa yang kau inginkan?

Yeon Ta Bal: Tolong beritahu nasibku. Apa yang aku inginkan adalah kemampuan untuk membeli dan menjual sebuah negara.

Ye Mi Eul: Datang dan temui aku di Kuil Ramalan di istana.



Geum Wa, Permaisuri, Lady Yoo Hwa, para pangeran dan para pejabat berkumpul di lapangan istana untuk menonton percobaan pedang baru Mo Pal Mo. Dua orang prajurit dengan pedang yang berbeda bertarung. Satu prajurit memakai pedang Han dan yang lain memakai pedang Mo Pal Mo. Tiba-tiba Dae So berkata bahwa ia ingin menguji pedang buatan Mo Pal Mo. Ia meminta Jumong menjadi lawannya dengan memakai pedang Han.

Yoo Hwa dan Jumong terkejut. Jumong memenuhi permintaannya. "Aku bersedia." kata Jumong. Yoo Hwa khawatir, namun Jumong mengatakan padanya agar jangan khawatir.



Jumong bertanding melawan Dae So. Dae So berbisik pada Jumong, "Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu."

Dae So agak terkejut mengetahui bahwa Jumong bisa sedikit bela diri. Namun kemampuan Dae So masih di atas Jumong. Dae So menyerang dengan pedang sementara Jumong menangkis dengan pedangnya. Pedang Dae So patah dan pedang Jumong menjurus ke leher Dae So. Mo Pal Mo langsung berlutut. "Maafkan aku, Yang Mulia! Aku telah mengecewakanmu!"



Young Po: Ilmu bela diri Jumong masih kalah denganmu, kak!

Dae So: Aku menyuruhmu untuk memantau Jumong. Aku yakin dia sedang mempelajari ilmu bela diri. Walau masih dasar, ia jelas sedang berlatih.

Young Po: Aku memantaunya, kak, tapi aku tidak tahu tentang ini.

Dae So: Bagaimana kita menghabisinya kalau begini saja kau tidak bisa?! Cari tahu dimana dan dengan siapa dia berlatih!



Permaisuri Wan Hoo memanggil Yoo Hwa ke ruangannya. Ia memanggil seorang pendongeng untuk menceritakan sebuah cerita untuk mereka. "Ia terkenal di kalangan masyarakat karena menceritakan cerita yang bagus. Aku sengaja memanggilnya ke sini." ujar Wan Hoo pada Yoo Hwa. Ia berpaling pada pendongeng dan bertanya, "Cerita apa yang ingin kau ceritakan pada kami?"

Pendongeng: Aku akan bercerita tentang seorang pahlawan yang terlupakan oleh zaman.

Wan Hoo: Siapakah pahlawan ini?

Pendongeng: Ini cerita tentang seorang pria yang berusaha mengembalikan kejayaan GoJoSeon dengan berperang melawan Negara Han, Jenderal Hae Mo Su.

Yoo Wa sangat terkejut dan wajahnya menjadi pucat pasi.

Wan Hoo tertawa: Aku ingat nama itu. Ada seorang pria bernama Hae Mo Su bertahun-tahun yang lalu. Ceritakan pada kami.

Pendongeng: Karena menyembunyikan Jenderal Hae Mo Su, klan Nona Yoo Hwa dihabisi. Ia menjadi satu-satunya orang yang selamat. Setelah berhasil kabur dari tangan Negara Han, ia bertemu kembali dengan Hae Mo Su. Langit telah menetapkan takdirnya. Ia mengandung anak Jenderal Hae Mo Su. Tapi, sebelum anaknya lahir, Jenderal Hae Mo Su ditangkap oleh Han dan menghembuskan napas terakhir secara tragis.

Wan Hoo: Lalu apa yang terjadi pada Nona Yoo Hwa dan anaknya?

Pendongeng: Aku tidak tahu. Ia mungkin membesarkan anaknya di suatu tempat. Suatu saat nanti, keturunan Hae Mo Su akan muncul dan berperang melawan Han.

Wan Hoo: Beraninya kau! Putri klan HaBaek dalam ceritamu itu adalah Lady Yoo Hwa, yang duduk di depanmu! Ia adalah selir yang Mulia dan bahkan memberi Yang Mulia seorang putra! Beraninya kau mempermalukan dia di depan semua orang!

Pendongeng bersujud pada Yoo Hwa. "Yang Mulia, cerita ini sudah kuceritakan pada orang lain.. Tolong ampuni aku!"

Yoo Hwa membela Pendongeng itu. "Ia hanya menceritakan cerita yang tidak berbahaya. Ampuni nyawanya."

Yoo Hwa kembali ke ruangannya dengan wajah pucat pasi. Wan Hoo tertawa menang.



Yeon Ta Bal mengunjungi Yeo Mi Eul.

Yeo Mi Eul: Apa sebenarnya tujuanmu mendekati aku?

Yeon Ta Bal: Tujuan? Aku tidak punya tujuan apa-apa.

Yeo Mi Eul: Kau membawakan hadiah yang sangat berharga, apa yang kau minta sebagai balasan?

Yeon Ta Bal tertawa: Bertemu dengan Peramal seperti Anda adalah kehormatan dan keuntungan yang sangat besar untukku.

Yeo Mi Eul menatapnya curiga.



Jumong keluar istana diam-diam untuk berlatih. Ia merasa ada seorang pria yang mengikutinya, lalu ia berlari menghindari pria itu. Di lain pihak, So Seo No dan Oo Tae sedang berjalan-jalan di pasar. So Seo No melihat Jumong, namun Jumong tidak melihatnya karena sibuk menghindari pria yang mengikutinya.



Jumong berhasil lolos dan pergi ke penjara rahasia untuk berlatih. Jumong iseng ingin melihat-lihat siapa yang dikurung dalam penjara itu. Ia dan Mu Song memberi makanan pada para tahanan yang dikurung bersama di sel besar. Setelah selesai membagikan makanan, Mu Song bilang masih ada satu penjara lagi.

Mu Song: Cho Mo, kau tunggu saja di sini. Aku akan ke sana sendiri.

Jumong: Kenapa?

Mu Song: Kau tidak bisa ke sana.

Jumong: Memangnya siapa yang dikurung di sana?

Mu Song: Aku tidak tahu siapa para tahanan di sini, atau alasan kenapa mereka dikurung. Tahanan yang satu ini diberi penjagaan khusus, bahkan sebelum aku bekerja di sini. Jadi, kau tunggu di sini saja.

Tapi Jumong tidak mau mengalah begitu saja. Ia menarik Mu Song. "Jika kau tidak memberi tahu orang lain, siapa yang akan tahu?" bujuk Jumong. "Aku ingin ke sana denganmu."

Mu Song menyerah. "Ikuti aku." katanya seraya berjalan menuju penjara khusus. Ia mengambil obor dan membuka gembok.

Seorang pria tua duduk diam di atas papan tempat tidurnya. Jumong menatapnya lekat-lekat dari samping.



Di tempat lain, Geum Wa mendapat mimpi tentang Hae Mo Su yang datang meminta pertolongannya. Geum Wa terbangun kaget. Geum Wa bergegas menemui Yeo Mi Eul untuk menceritakan mimpinya. "Baru kali ini aku bermimpi tentang Hae Mo Su." katanya cemas. "Ia memintaku untuk menolongnya."

Yeo Mi Eul menunduk. "Itu hanya mimpi, tidak berarti apa-apa." katanya menenangkan, namun ada kecemasan di raut wajahnya.

Geum Wa tidak bisa tenang. "Hae Mo Su mendatangi aku untuk mengingatkan janjiku padanya. Pilihlah hari yang baik untukku. Aku ingin melakukan berdoa untuk Jenderal Hae Mo Su."



Jumong pulang ke istana dan mengunjungi ibunya. Jumong agak diam. Yoo Hwa bertanya apakah Jumong memikirkan sesuatu. Jumong kemudian menceritakan tentang penjara rahasia tempat Mu Song bekerja di gua di Gunung Soo Mi dan tidak ada orang yang tahu tentang tempat itu.

Yoo Hwa mengangguk. "Lalu, siapa yang dikurung di sana?"

Jumong: Mu Song sendiri juga tidak tahu siapa mereka atau karena alasan apa mereka dikurung. Ada seorang pria yang sudah dikurung selama bertahun-tahun."

Yoo Hwa: Kejahatan apa yang telah dilakukannya sampai dia dikurung bertahun-tahun?

Jumong berpikir sejenak. "Aku melihat seorang tahanan yang aneh. Kejahatannya pasti sangat besar hingga ia harus dikurung di dalam kurungan besi. Rambutnya sangat putih ditengah kegelapan, dan kedua matanya buta."

Yoo Hwa terdiam dan terkejut. Jumong melanjutkan, "Tapi yang paling aneh adalah ketika aku melihat matanya, aku seperti terkena sambaran petir. Sampai sekarang pikiranku masih terbayang-bayang pria itu."

Yoo Hwa teringat ketika ia melihat Hae Mo Su diikat di alun-alun Hyeon To City dan kedua mata Hae Mo Su buta. "Kau bilang kedua matanya buta?" tanya Yoo Hwa.

Jumong: Benar.

Yoo Hwa: Apa kau tahu hal lain tentang pria itu? Siapa dia atau kejahatan apa yang dilakukannya?

Jumong: Bahkan Mu Song saja tidak tahu, mungkin akan sulit untuk mencari tahu.

Jumong melihat wajah ibunya yang cemas, lalu bertanya, "Apa ibu tahu siapa dia?"

Yoo Hwa menggeleng cepat. "Tidak. Beristirahatlah.

Jumong keluar dari ruangan ibunya. Yoo Hwa berkata pada dirinya sendiri, "Tidak mungkin. Itu tidak mungkin."



Yeo Mi Eul meminta Perdana Menteri untuk datang menemuinya. Yeo Mi Eul terlihat cemas. "Perdana Menteri, Hae Mo Su masih hidup." ujar Yeo Mi Eul.

Perdana Menteri sangat terkejut. "Apa katamu?" serunya. "Kau bilang, Hae Mo Su masih..."

Yeo Mi Eul mengulangi. "Ia masih hidup. Suatu ketika, ia datang ke BuYeo..."

Yeo Mi Eul teringat hari ketika pengawal memberi tahu bahwa Hae Mo Su datang ke BuYeo dan prajurit itu mengurungnya dalam penjara. Yeo Mi Eul memutuskan untuk tidak membunuh Hae Mo Su karena itu adalah keinginan langit. hae Mo Su akan mati jika takdir berkata demikian. Ia memenjarakan Hae Mo Su. Tidak ada orang lain yang tahu selain Yeo Mi Eul, dan kini Perdana Menteri.



Yeo Mi Eul dan Perdana Menteri memutuskan untuk pergi ke penjara rahasia untuk melihat Hae Mo Su. Di lain pihak, Jumong masuk ke penjara pria buta. Jumong berjalan mendekati pria itu sambil memegang obor, ingin melihat pria itu lebih jelas.

Jumong menatapnya lekat-lekat. "Siapa kau?" tanyanya. "Kejahatan apa yang sudah kau lakukan hingga kau dikurung di sini?"

Pria buta itu menjawab tanpa menoleh. "Berapa lama aku dikurung... atau alasan kenapa aku di sini... aku tidak tahu. Selama aku di sini, aku berpikir tentang itu... tapi aku tetap tidak tahu."



Mu Song mengantar Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul ke sel besar tempat para tawanan lain dikurung.



Pria buta itu menggerakkan sedikit kepalanya. "Kau bertanya siapa aku? Sekarang... Aku sudah lupa siapa aku."

Jumong menatap pria buta itu.





Thank you to all the sources of informations, articles, and pictures

Monday, March 15, 2010

Sinopsis Jumong episode 4

Jumong : Prince of the Legend episode 4
Tayang: Kamis, 18 Maret 2010 pukul 17:00 WIB di Indosiar



Geum Wa: Berikan Pedang! Cepat berikan pedang!
Geum Wa mengacungkan pedang ke arah Jumong. "Beraninya seorang pangeran bermain dengan pelayan dari Divisi Ramalan?! Aku akan memancung kepalamu!
Jumong: Aku tahu aku salah. Maafkan aku, Ayah!
Geum Wa menjatuhkan pedangnya dan berkata dengan nada kecewa, "Jumong, apa kau tidak kasihan pada ibumu?"
Tiba-tiba Yoo Hwa datang dan berlutut di samping Jumong: Jangan biarkan kami membuatmu malu, Yang Mulia. Izinkan kami untuk meninggalkan istana. Sikap anak ini tidak pantas untuk seorang pangeran. Sebagai ibunya, aku malu menghadapi Yang Mulia. Tolong kirim kami keluar dari istana.
Geum Wa: Cukup. Sebagai hukuman karena tidak hadir dalam upacara, Jumong akan diberi 20 pukulan.
Jumong terkejut. Dae So maju dan bicara. "Yang Mulia, 20 pukulan akan membuat dia tidak bisa berdiri berhari-hari. Jumong harus pergi denganku untuk melihat Busur DalMul. Tolong berikan hukuman itu lain waktu.
Geum Wa setuju. Jumong berterima kasih pada Dae So dan Young Po sangat kesal.

Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul melihat kejadian itu. "Apa kau masih curiga bahwa ia adalah anak Hae Mo Su?" tanya Yeo Mi Eul. Perdana Menteri menjawab, "Kalau memang dia adalah anak Hae Mo Su, tidak mungkin ia menjadi sangat tidak berguna seperti itu. Mungkin kecurigaanku salah."
Young Po protes pada Dae So. "Kenapa kakak menolongnya?"
Dae So: Jika dia diberi 20 pukulan, dia tidak akan bisa berjalan. Jika ia meninggalkan istana, dia tidak akan bisa kembali.
Permaisuri: Apa maksudmu?
Dae So: Kita harus membawa Jumong keluar agar lepas dari perlindungan Yang Mulia. Jika ia pergi, ia tidak akan pernah kembali.
Jumong bertanya pada ibunya: Apa yang terjadi pada Bu Young?
Yoo Hwa: Dia diberi 10 pukulan dan dikeluarkan dari istana.
Jumong sangat terkejut dan merasa bersalah. "Apa dia bisa bertahan?"
Yoo Hwa: Sekarang kau tahu konsekwensi dari tindakanmu. Besok kau harus melakukan perjalanan untuk melihat Busur Da Mul. Pergilah tidur.
Jumong: Apa itu Busur Da Mul? Kenapa aku harus menempuh perjalanan jauh untuk sebuah panah bodoh?
Yoo Hwa: Busur Da Mul adalah senjata keramat yang digunakan oleh leluhur BuYeo untuk mendirikan negara ini. Pangeran BuYeo harus melihat Busur Da Mul dan menerima energinya. Jika kau tahu kesalahanmu, pergi ke Busur Da Mul dan perbarui lagi hatimu.
Jumong diam. Yoo Hwa berkata agak keras, "Kenapa kau diam? Apa kau takut meninggalkan istana?"
Jumong: Tidak. Tunggu dan lihat saja. Aku tidak akan mengecewakan ibu dan ayah.
Jumong, Dae So dan Young Po bersiap-siap melakukan perjalanan. Mereka dilarang mengungkap identitas asli mereka sebagai pangeran.
Dalam perjalanan, mereka bergiliran memimpin dan menunjukkan jalan. Dae So memimpin, Young Po dan kemudian Jumong. Di tengah hutan, Jumong kesulitan menemukan arah jalan yang benar. Ia berjalan di depan.
Dae So: Apa kau kesulitan menemukan arah?
Jumong: Tidak. Ikuti saja aku. (Jumong berbohong)
Dae So dan Young Po berbalik dan meninggalkan Jumong yang ada di depan. Jumong berjalan beberapa saat. Ketika ia menoleh, kedua kakanya sudah tidak ada. Jumong hendak berbalik, namun tiba-tiba ia terjatuh dari kudanya ke kubangan lumpur hisap.
Jumong terhisap ke dalam lumpur itu. "Tolong! Tolong! Ibu!" teriak Jumong. Namun tidak ada yang mendengarnya. Tiba-tiba dua orang datang dan menyelamatkan Jumong. Orang itu tidak lain adalah So Seo No dan Oo Tae, anak buahnya.
Jumong dibawa ke perkemahan pedagang GyehRu. Bukannya berterima kasih, Jumong malah bertingkah sok kuasa ala pangeran. Jumong diikat dan terpaksa ikut rombangan itu untuk berdagang. Jumong meminta dirinya dilepaskan.
So Seo No: Apa yang bisa kau beri untuk membalas budi?
Jumong: Aku tidak punya apapun saat ini .
Se Seo No: Kalau begitu, aku akan menggunakan tubuhmu sebagai bayarannya. Aku berniat menjualmu sebagai budak.
Jumong: Jangan jual aku. Aku lebih baik menjadi pelayanmu.
So Seo No: Akan kupikirkan.
Rombongan pedagang itu menjual pedang pada prajurit Heng In. Pedang yang dijual adalah pedang baja, yang bisa mematahkan pedang besi milik prajurit Heng In. Prajurit Heng In bertanya harga pedang itu, namun So Seo No memberikan harga yang kelewat mahal. Pemimpin prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang So Seo No dan rombongannya, namun pihak Heng In mengalami kekalahan. So Seok No meminta Oo Tae untuk membunuh pemimpin itu, namun Oo Tae menolak. "Kurasa lebih baik kau melepas mereka."
So Seo No: Kehormatan lebih penting daripada nyawa. Bunuh mereka. Ini perintah!
Oo Tae: Jika kau mau membunuh mereka, bunuh dengan tanganmu sendiri.
So Seo No: Aku tidak akan menjual barang pada Heng In lagi. Pedang ini akan kami jual ke musuh Heng In, Ok Jo. Pergi!
So Seo No menyuruh Jumong bertarung dengan salah satu anak buahnya. Kalau Jumong menang, ia akan dilepaskan. Jumong bertarung sebisanya. Oo Tae memperhatikan tangan Jumong, yang menurut pandangannya sangat kuat. Sekali tonjok, lawan Jumong langsung pingsan. Walaupun babak belur, Jumong berhasil menang. Ia diantarkan oleh rombongan GyehRu ke Gunung Shijo. Sebelum pergi, Jumong berkata pada So Seo No, "Karena kau mau menyebutkan namamu, maka aku akan memberi tahu namaku. Namaku Jumong. Aku harus menyembunyikan identitasku karena suatu alasan, tapi aku adalah pangeran BuYeo. Ingat aku. Aku menyukaimu. Jika kau singgah di BuYeo, cari aku."
So Seo No: Bodoh.
Dae So dan Young Po sempat kesulitan untuk menemukan jalan ke goa tempat Busur Da Mul berada, tapi akhirnya mereka bisa menemukannya. Mereka melihat Busur Da Mul dan berusaha untuk memasang tali busurnya. Namun busur itu terlalu kuat dan mereka gagal. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke BuYeo.
Jumong berjalan menuju goa dan beristirahat sejenak. Ia mendengar kedua kakaknya bicara. Jumong mencuri dengar.
Young Po: Apa kita akan dihukum karena tidak melindungi Jumong?
Daee So: Kita tidak membunuhnya. Dialah yang membahayakan hidup kita. Sudahlah, jangan membicarakan orang yang sudah mati.
Young Po: Jika kita kembali nanti, kita bisa beristirahat dengan tenang. Aku ingin melihat wajah Lady Yoo Hwa ketika kita menceritakan kematian anaknya.
Jumong mendengar percakapan mereka dan menjadi shock. Ia menangis, tidak menyangka kalau kedua kakaknya menginginkan kematiannya. Jumong meneruskan perjalanan ke Panah Da Mul.
Dengan sedikit (agak banyak sih, tepatnya) kesulitan, Jumong akhirnya berhasil mencapai Busur Da Mul. Ia mengambil panah itu dan mencoba memasang tali busurnya. Jumong berhasil memasang tali busur itu dengan sangat mudah. Jumong mencoba untuk meregangkan busur, namun tiba-tiba busur itu patah.
Dae So dan Young Po sudah kembali ke istana. Mereka memberi tahu Geum Wa dan yang lainnya bahwa Jumong sudah mati. Mereka sudah mencari-cari Jumong kemana-mana, namun tidak ketemu. Yoo Hwa tidak percaya Jumong sudah meninggal. Geum Wa memerintahkan Jenderal Perang, Heuk Chi, untuk memimpin pasukan mencari Jumong. Jika Geum Wa tidak melihat sendiri mayat Jumong, ia tidak akan percaya Jumong sudah mati.
Dae So, Young Po dan beberapa pasukan berangkat dari istana BuYeo untuk mencari Jumong. Belum sempat mereka melewati gerbang utama, mereka melihat Jumong berjalan pelan. Dae So dan Young Po terkejut sekaligus kesal. Yoo Hwa segera berlari menyambut anaknya.

Yoo Hwa: Apa kau pergi ke Gunung Shijo dan melihat Busur Da Mul?
Jumong: Ya
Jumong dan Yoo Hwa dipanggil untuk menghadiri jamuan makan malam untuk ketiga pangeran yang sudah kembali. Ketiga pangeran berdiri di depan Geum Wa.
Geum Wa bertanya pada Dae So, "Apa kau melihat Busur Da Mul?"
Dae So: Iya.
Geum Wa: Apa kau hanya melihat saja? Dari sifatmu, kau pasti mencoba untuk memasang tali busurnya. Apa kau memasang tali busur itu?
Dae So: Ya. (Dae So berbohong)
Geum Wa: Bagaimana rasanya?
Dae So: Dalam hidupku aku tidak pernah melihat busur yang sekuat itu. Busur itu adalah legenda.
Geum Wa berkata, "Bagus." lalu menuang air minum untuk Dae So. Geum Wa berpaling pada Young Po. "Bagaimana dengammu?
Young Po: Kak Dae So bisa memasang tali busur dengan mudah. Aku hanya bisa nyaris memasangnya. Aku tidak bisa sekuat kak Dae So.
Geum Wa: Jumong, bagaimana denganmu?
Jumong ragu sejenak. ia teringat saat dirinya mematahkan Busur Da Mul. Jumong kemudian bersujud dan berbohong, "Maafkan aku ayah. Aku tersesat di hutan. Aku merasa takut dan kembali ke istana tanpa mencapai Gunung Shijo."
Geum Wa merasa kecewa.
Yoo Hwa bertanya marah pada Jumong: Kenapa kau berbohong padaku?
Jumong: Aku tidak berbohong padamu, ibu. Aku melihat Busur Da Mul. Aku bisa memasang tali busur dengan mudah. Tapi ketika aku meregangkan busurnya, busur itu patah.
Yoo hwa terkejut: Busur keramat... patah?
Jumong: Aku sangat takut karenanya. Terlebih aku takut pada kedua kakakku. Aku tidak tersesat, tapi kakak-lah yang meninggalkan aku agar mati.
Jumong meneteskan air mata. "Mematahkan Busur Keramat adalah kejahatan besar. Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu di depan kedua kakak yang menginginkan aku mati? Ibu, apa yang harus aku lakukan?"




Sumber :

  • imperor-angel.blogspot.com
Thank you to all the sources of informations, articles, and pictures


ppc management, online marketing, search marketing, seo, website development - www.dotmedias.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...